
Congenital Heart Disease Awareness Week atau Pekan Kesadaran Penyakit Jantung Bawaan diperingati tanggal 7-14 Februari setiap tahunnya. Peringatan sedunia ini dijadikan pengingat bagi semua pihak agar tingkatkan terus pemahaman mengenai Penyakit Jantung Bawaan (PJB).
Di Indonesia diperkirakan 8 bayi dari 1.000 kelahiran mengalami kelainan jantung bawaan. Penyakit jantung bawaan (PJB) adalah kelainan pada struktur jantung dan pembuluh darah yang ditemukan sejak bayi dilahirkan. Kelainan ini terjadi pada saat janin berkembang dalam kandungan. Para ahli mengungkapkan bahwa sekitar 90% bayi yang dilahirkan dengan kelainan ini meninggal dunia dalam tahun pertama kehidupan bila tidak dilakukan perawatan yang tepat.
Dalam gelar wicara yang dipandu oleh dr.Monique P.F.Rotty, Sp.JP (K) di Instalasi Promosi Kesehatan dan Pemasaran (IPKPRS) RSUP Prof.dr.RD Kandou, Manado (Selasa, 13/2/2024), terungkap bahwa ada peringatan dini atau tanda awal yang bisa diwaspadai oleh semua pihak.
Tanda awal ini diungkapkan oleh narasumber Dr.dr.David Erling Kaunang, Sp.A (K), bahwa bila saat bayi lahir tidak langsung menangis patut dicurigai bayi tersebut mengidap penyakit jantung bawaan. Lebih lanjut diungkapkannya bahwa perlu memperhatikan proses menyusui. Bila hanya berlangsung singkat, tidak berlangsung lama atau terputus-putus, akan makin mencurigai mengidapnya penyakit bawaan ini. Lebih lanjut lagi bila ketidakcukupan asupan makanan berlangsung terus, maka anak tersebut bisa mengalami gangguan pertumbuhan.
Penyakit jantung bawaan dikelompokkan atas dua golongan besar. Pertama, PJB biru (sianotik). Kedua, PJB tidak biru (nonsianotik). PJB Nonsianotik, tergolong tak begitu berbahaya, namun mengganggu perkembangan kesehatan. Misalnya defek septum atrium (ASD), defek septum ventrikel (VSD) dan duktus arteriosus persisten (PDA). Kelainan ini umumnya bisa sembuh sendiri atau lewat penanganan medis tanpa operasi. PJB Biru, telah mengalami penurunan saturasi oksigen sejak lahir. Contoh, Tetralogi of fallot (TOF). Terdiri atas empat rangkaian kelainan bawaan sekaligus yang mencampur-aduk darah kaya oksigen dan miskin oksigen dalam peredaran darah; Transposisi arteri besar (TGA), yakni tertukarnya hulu letak dua pembuluh darah utama yang keluar dari jantung. Kondisi ini memerlukan operasi pada tahun pertama kehidupan, bahkan lebih dari sekali untuk mengembalikan fungsi jantung.
Dalam gelar wicara tersebut narasumber dr.David Soeliongan Waworuntu, Sp.A(K) menyampaikan deteksi dini PJB bayi biru dengan mudah bisa dilakukan atas bantuan alat oksimeter. Pemeriksaannya mudah, murah, dan tidak invasif sehingga dapat dilakukan di mana saja. Oksimetri dianjurkan untuk diperiksakan pada bayi dalam 24 jam kelahirannya dan sebelum diperbolehkan pulang dari fasilitas kesehatan. Pemeriksaan oksimetri dilakukan pada kedua tangan dan kaki bayi. Hasil oksimetri saturasi oksigen kurang dari 90% tergolong kritis. Sebaiknya segera dirujuk ke fasilitas kesehatan yang dapat menangani PJB.
Mengakhiri gelar wicara Congenital Heart Disease (PJB) Awareness sedunia ini, Dr.dr.David Kaunang mengajak orangtua yang memiliki anak dengan gejala dan tanda yang mengarah ke penyakit jantung bawaan agar jangan segan-segan memeriksakan ke dokter untuk dilakukan pemeriksaan yang lebih lengkap. Penyakit jantung bawaan jangan dijadikan hal yang menakutkan karena sebenarnya penyakit jantung bawaan bisa diketahui sejak dini, juga bisa dicegah. Bahkan dapat ditangani, baik secara intervensi jantung nonbedah maupun bedah.

Tidak semua bayi yang lahir dengan masalah jantung harus menjalani operasi. Beberapa bayi sanggup menjalani hidup hingga dewasa tanpa gangguan berarti karena kondisi jantungnya relatif masih bisa berfungsi normal. Diprediksi ada 32.000 kasus penyakit jantung bawaan baru setiap tahun. Dr.Monique PF Rotty, Sp.JP(K) mengakhiri percakapan ahli ini dengan menaruh harap agar masyarakat makin sadar dan lebih peduli dengan penyakit jantung bawaan ini.*(DK)

