
YAYASAN PERKI – Seolah bergerak dalam senyap, Yayasan PERKI selama ini terkesan adem-ayem saja. Saatnya kini mengenalkan pencapaiannya ke permukaan. Dr.Anna Ulfah Rahayoe, SpJP (K) selaku Ketua Dewan Pembina Yayasan PERKI mengapresiasi kinerja Dewan Pengurus Yayasan.
Ketua Dewan Pembina Yayasan PERKI Dr.Anna Ulfah Rahayoe, SpJP (K) tampak begitu antusias menyampaikan sambutan saat Buka Bersama Ramadhan April yang lalu. Dr.Anna memberi penegasan dan mengurai lebih jauh progress report terkini yang sekilas disampaikan sebelumnya oleh Ketua Yayasan PERKI Dr.Dolly RD Kaunang, SpJP.
Pelaksanaan bukber kali ini menurut Dr.Anna, bukan hanya sekadar bukber dan silaturrahmi biasa antarsesama anggota PERKI, namun kali ini merupakan hasil kerjasama elegan antara Yayasan PERKI dan PERKI Jaya. Bukber ini sangat sejalan dengan salah satu misi Yayasan PERKI dalam memberikan kemanfaatan sosial yang sebesar-besarnya bagi anggotanya.
Karenanya, pemberian pelayanan kesehatan berupa pemeriksaan dan imunisasi bagi para The Senior Cardiologist yang menghadiri bukber tersebut sangatlah berarti. Pasalnya selama ini Dr.Anna menyadari sepenuhnya, bahwa umumnya mereka para dokter jantung yang sehari-hari totalitas memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien di pusat pelayanan kesehatan -rumah sakit maupun klinik-, justru acap kali melupakan kesehatan sendiri. Terlebih lagi, lanjut Dr.Anna, akhir-akhir ini ada nuansa keprihatinan mendalam bila mengenang sejumlah sejawat yang jatuh sakit, bahkan berpulang ke rahmatullah akibat penyakit yang tak kunjung teratasi.
Saat sesi wawancara dengan PERKINews, sangat terasa suasana keprihatinan mendalam manakala memperoleh kabar teman sejawat kardiologis mengalami sakit jantung, mendadak Stroke dll. Menyadari tekanan darah normal, tapi aritmia tidak diketahuinya. Atrial Fibrilasi sangat sering dialami oleh orang-orang yang sudah tua. Atrial Fibrilasi memprovokasi terjadinya penyumbatan pembuluh darah di otak.

Pada kesempatan bukber ini dilakukan holter monitoring pemasangan alat ECG Ambulatory selama tujuh hari. “Nah, inilah kepedulian Yayasan PERKI kepada teman-teman sejawat yang senior ini. Memberi kesempatan deteksi aritmia dengan biaya yang lebih murah daripada semestinya. Itulah makna konkrit dari pertemuan bukber tersebut,” jelas Dr.Anna dengan takzim.
Kehadiran para The Senior Cardiologist yang sudah berusia 70 tahun keatas ini sangat disyukurinya. Pada hari tersebut kita bisa menyelenggarakan pemeriksaan laboratorium hematologi rutin, gula darah, kolesterol, asam urat, fungsi ginjal dan tes fungsi hati, serta vaksinasi influenza dan pneumonia.
“Janganlah kita yang senantiasa peduli pada yang sakit, tapi tidak mempedulikan diri sendiri. Itu saja yang kita inginkan,” tegas Dr.Anna.

YAYASAN PERKI MELAKUKAN LANGKAH PROGRESIF
Kesempatan menyampaikan highlight atas progress report pencapain kinerja Yayasan PERKI yang disampaikan Dr.Dolly Kaunang selaku ketua Yayasan mendapat apresiasi serius dari kalangan The Senior Cardiologist. Hal ini diamini pula oleh Dr.Anna selaku Ketua Dewan Pembina. Diakuinya pencapaian kinerja Yayasan PERKI dewasa ini sungguh meyakinkan. Terutama yang paling progresif adalah keberhasilan Yayasan PERKI membangun Gedung Asrama yang didedikasikan bagi para cardiologist yang tengah menjalani program sub spesialis atau fellowship di RS Jantung Harapan Kita, Jakarta.
Keberhasilan pembangunan gedung asrama ini diakui Dr.Anna merupakan suatu bukti nyata bahwa Yayasan PERKI telah melakukan awal terobosan besar bagi kemajuan anggota PERKI. Karena bagaimana pun yang akan menggunakan kemanfaatan dari Gedung Asrama ini adalah anggota PERKI sendiri. Sekaligus Dr.Anna berharap ini menjadi pilot project yang kemudian akan berlanjut dengan membangun Gedung Asrama sejenis di pusat-pusat pendidikan jantung seperti di Surabaya, Medan, Manado, Yogyakarta, dst.
Diketahui asrama tersebut dibangun persis di belakang RS Jantung Harapan Kita. Gedung berlantai empat yang berdiri di lahan seluas 150-an meter persegi. Terdiri dari 18 kamar Full AC lengkap dengan kamar mandi dan toilet tiap kamar. Diyakini fasilitas asrama ini cukup memadai bagi sejawat cardiologist yang belajar disana.
Proses pembangunan gedung asrama itu, sebagaimana dikemukakan Dr.Dolly selaku Ketua Yayasan PERKI, berjalan sesuai master plan dan pentahapannya. Kini tiba tahap akhir pembangunan. Selanjutnya memasuki tahap kazernering. Tahap mengisi interior dan perlengkapan alat rumah tangga lainnya. Menariknya selama proses pembangunan gedung ini, jajaran Yayasan PERKI betul-betul all out. Diawasi langsung setiap tahap pembangunan. Yayasan PERKI menunjuk Dr.Endang Ratnaningsih, SpJP selaku Sekretaris Yayasan PERKI sebagai Head Project Officer, Dr.Adrianus Kosasih, SpJP selaku Bendahara sebagai Ketua Pengawas. Sehingga Dr.Dolly menjamin internal supervisi yang dilakukan jajarannya berlangsung baik.

Optimisme Yayasan PERKI menjadi salah satu pilar utama bagi pengembangan PERKI secara keseluruhan, terutama dalam aspek sosial pada lingkup internal PERKI, sangatlah bisa jauh lebih progresif dan lebih luas lagi ranah pergerakannya. Hal ini diakui Dr.Anna karena Yayasan PERKI selama ini ditunjang dengan sejumlah kegiatan yang menghasilkan pendapatan reguler yang cukup signifikan. Terutama dari pelatihan ACLS yang telah lama bekerjasama dengan PP PERKI.
Sangat bernilai strategis pembangunan Gedung Asrama ini menurut Dr.Anna, karena akan sangat membantu sekali bagi para yuniornya yang dari daerah-daerah yang relatif jauh dan terpencil bisa mendapatkan penginapan yang layak dan terjangkau.
PELATIHAN ONLINE.
Lebih jauh Dr.Anna memberikan stressing bahwa orientasi Yayasan PERKI saat ini adalah bagaimana kedepannya bisa mengembangkan afiliasi dengan segenap unsur PERKI secara luas. Tidak hanya sebatas penyelenggaraan ACLS -kerjasama dengan PP PERKI, namun juga melaksanakan sejumlah pelatihan maupun pendidikan yang berdampak luas bagi masyarakat.
Salah satu program yang paling diprioritaskan adalah pelatihan online. “Saya berharap bisa berkembang pendidikan & pelatihan secara online,” ungkap Dr.Anna. Format pendidikan atau pelatihan online yang dimaksud Dr.Anna selain tetap ACLS bagi anggota PERKI, juga hendaknya digelar bagi dokter umum dan masyarakat.
Selaku pengemban amanah sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan PERKI yang notabene sebetulnya menurut Dr.Anna masa kepemimpinannya berakhir pada tahun 2024 ini, berharap program pendidikan dan pelatihan tersebut berlangsung regular dan terstruktur. Idealnya bisa dilaksanakan dalam waktu dekat ini. Terlebih, secara infrastruktur sudah mendukung, diantaranya Yayasan PERKI telah memiliki studio khusus untuk aktivitas pelatihan online lainnya. Belum lagi kesiapan suprastruktur pendukung seperti kurikulum, modul hingga trainer atau host pemandu yang tersedia luas di lingkup PERKI. Hal ini bisa melalui kerjasama dengan PERKI Cabang di seluruh Indonesia.
Segala kesiapan kelengkapan maupun sistem yang dimiliki Yayasan PERKI ini menurut Dr.Anna menemukan momentumnya dalam era digital ini. “Adanya studio khusus, secara periodik bisa dilaksanakan sesi-sesi pendidikan online. Penyelenggaraannya terakreditasi sehingga bisa memperoleh nilai SKP (Satuan Kredit Partisipasi) bagi anggota dalam memenuhi standar kompetensi.” Hal ini diungkapkan Dr.Anna yang berharap sebelum ia menuntaskan masa bakti selaku Ketua Dewan Pembina hal itu bisa terwujud. Semoga! (LV/DK)

