JAKARTA — Tantangan menjaga kesehatan jantung semakin besar di tengah gaya hidup modern. Kesibukan membuat sebagian masyarakat tidak memiliki cukup waktu untuk berolahraga. Pada saat yang sama, pola makan cepat saji, konsumsi daging yang berlebihan, serta kurangnya konsumsi ikan, buah, dan sayuran masih menjadi persoalan.
Ketua Dewan Pembina Yayasan Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) dr. Anna Ulfah Rahayoe, Sp.JP(K), FIHA, mengatakan perubahan gaya hidup tersebut perlu diimbangi dengan kesadaran untuk menjaga kesehatan kardiovaskular.
“Pada prinsipnya kita memasyarakatkan pola hidup sehat, dengan berolahraga dan makan yang sehat untuk kesehatan kardiovaskular,” kata Anna dalam peringatan World Heart Day 2026 di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (27/9/2026).
Menurut Anna, kurangnya aktivitas fisik dan pola makan yang tidak sehat tidak boleh dianggap sepele. Tanpa pemahaman yang cukup mengenai gaya hidup sehat, risiko penyakit jantung dapat muncul pada usia yang semakin muda.
“Kalau kita tidak memberikan pemahaman pada masyarakat tentang gaya hidup, kita akan mendapatkan pasien-pasien serangan jantung yang lebih muda usianya,” ujarnya.
Karena itu, menjaga kesehatan jantung tidak selalu membutuhkan aktivitas yang berat. Anna mengatakan masyarakat dapat memulainya dengan menyediakan waktu sekitar 30 menit sehari untuk berjalan kaki.
Ia merujuk pada anjuran aktivitas fisik sekitar 150 menit dalam sepekan atau 30 menit per hari selama lima hari. Jika dilakukan dengan berjalan kaki, aktivitas tersebut dapat mencapai sekitar tiga kilometer.
“Jalan kaki 30 menit saja sudah cukup. Kalau sekitar tiga kilometer, itu sudah yang dianjurkan,” kata Anna.
Menurut dia, kebiasaan sederhana tersebut perlu berjalan bersama dengan pola makan yang lebih sehat, termasuk memperbanyak konsumsi buah dan sayuran.
Upaya menjaga kesehatan jantung juga perlu dilakukan dengan mengenali kondisi kesehatan sejak dini. Anna mengajak masyarakat memanfaatkan program pemeriksaan kesehatan gratis yang disediakan pemerintah.
“Program pemerintah sudah ada checkup gratis. Saya berharap masyarakat memanfaatkan itu, karena itu buat dirinya sendiri,” ujarnya.
Di sisi lain, Yayasan PERKI berupaya meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi kondisi darurat jantung melalui pelatihan bantuan hidup dasar secara gratis.
Menurut Anna, pengetahuan mengenai bantuan hidup dasar di masyarakat masih belum optimal. Padahal, serangan jantung dapat menyebabkan henti jantung yang membutuhkan pertolongan segera.
“Banyak kejadian serangan jantung yang menimbulkan henti jantung. Tiba-tiba di masyarakat tidak tertolong karena tidak banyak yang tahu caranya,” katanya.
Karena itu, Anna berharap edukasi bantuan hidup dasar dapat diperluas sehingga semakin banyak masyarakat mampu memberikan pertolongan ketika menghadapi kondisi henti jantung.
“Bagaimana caranya kita bisa memberikan pelajaran ini secara massal,” ujarnya.
Anna mengatakan peringatan World Heart Day juga menjadi momentum untuk mengajak masyarakat terlibat lebih aktif dalam menjaga kesehatan jantung. Ia berharap kesadaran masyarakat tidak berhenti pada peringatan tahunan, tetapi berlanjut menjadi kebiasaan sehari-hari.
“Pada prinsipnya kita merayakan Hari Jantung Sedunia dengan mengajak partisipasi masyarakat sebanyak mungkin,” kata Anna.
Ia berharap meningkatnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan kesehatan jantung dapat diikuti dengan perubahan perilaku, mulai dari lebih aktif bergerak, memilih makanan yang lebih sehat, hingga memiliki pengetahuan dasar untuk menyelamatkan orang yang mengalami henti jantung.
“Harapannya, agar kesadaran masyarakat akan kesehatan jantung lebih meningkat,” ujar Anna. (DK)

