Langit Senayan belum sepenuhnya terang ketika orang-orang mulai berlari pada Minggu pagi, 27 September 2026. Awan menggantung rendah, sementara udara Jakarta terasa lebih ringan dari biasanya. Di kawasan itu, Hari Jantung Sedunia diperingati dengan marathon dan berbagai kegiatan yang mengajak masyarakat lebih peduli pada kesehatan jantung.
Di tengah keramaian tersebut, sebuah aktivitas berlangsung dengan suasana yang berbeda di booth Yayasan PERKI. Orang-orang di sana sedang mengikuti simulasi Bantuan Hidup Dasar (BHD). Mereka berlutut di atas karpet merah, menghadap boneka peraga yang digunakan sebagai pengganti pasien. Kedua tangan diletakkan di dada boneka itu, kemudian ditekan berulang-ulang mengikuti arahan tenaga medis yang mendampingi mereka.
“Posisinya di sini,” kata instruktur sambil mengoreksi letak tangan seorang peserta. Peserta itu menggeser sedikit posisi telapak tangannya, kemudian kembali menekan dada boneka. “Ya, betul seperti itu,” ujar instruktur. Latihan pun berlanjut.
Tidak ada korban sungguhan di hadapan mereka. Tidak ada ambulans yang meraung atau keluarga yang panik. Hanya sebuah boneka yang diam ketika dadanya ditekan berkali-kali. Namun, dari latihan yang tampak sederhana itu, para peserta sedang mempelajari sesuatu yang kelak bisa dibutuhkan dalam keadaan paling genting yaitu bagaimana memberikan Bantuan Hidup Dasar atau BHD ketika seseorang mengalami henti jantung.
Selama ini, banyak orang mungkin pernah mendengar istilah BHD. Sebagian pernah melihat praktiknya di televisi, media sosial, atau video pelatihan. Tetapi melihat orang lain melakukan pertolongan tentu berbeda dengan melakukannya sendiri. Perbedaan itulah yang coba dijembatani melalui praktik di booth Yayasan PERKI.
Beserta peserta lain, Nurul dan Fara baru saja menyelesaikan praktik ketika ditanya tentang pengalamannya. Kedua peserta dari Bank Mandiri itu mengaku mendapatkan pengetahuan baru dari latihan tersebut. “Ya, jadi belajar sih,” katanya.
Sebelumnya, Nurul mengaku belum benar-benar mengetahui apa yang harus dilakukan jika suatu saat berhadapan dengan orang yang mengalami keadaan darurat jantung. Ia mungkin pernah melihat orang memberikan pertolongan, tetapi belum pernah memiliki pengalaman melakukan sendiri. “Jadi kita tahu ya kalau misalnya kita ada kasus seperti ini tuh gimana penanganan awalnya,” ujarnya.
Pengalaman itu membuat sesuatu yang sebelumnya hanya berada di luar pengetahuan menjadi lebih konkret. Peserta tidak sekadar mendengar penjelasan, tetapi langsung mencoba langkah-langkah yang diperagakan tenaga medis. Mereka belajar menilai kesadaran, memeriksa pernapasan dan denyut nadi, serta melakukan kompresi dada.
Dari luar, kompresi dada tampak sederhana. Ketika dicoba sendiri, peserta harus memperhatikan posisi tangan, posisi tubuh, ritme, dan tekanan. Instruktur beberapa kali membetulkan gerakan agar tindakan dilakukan dengan tepat. Dari sinilah latihan menjadi penting: tubuh perlu mengenali apa yang harus dilakukan ketika keadaan darurat membuat orang sulit berpikir panjang.
Bagi Nurul, simulasi itu menjadi pengalaman baru. Sebelumnya, ia belum mengetahui cara memberikan pertolongan dalam situasi seperti itu. Pagi itu, untuk pertama kalinya, ia mencoba sendiri langkah-langkahnya di bawah arahan instruktur. Pengetahuan tentang pertolongan pertama sering kali baru terasa penting setelah seseorang menyaksikan sendiri keadaan yang membutuhkan bantuan.
Padahal, dalam keadaan henti jantung, orang yang pertama berada di sisi korban belum tentu tenaga medis. Bisa jadi teman sekantor, anggota keluarga, atau orang yang kebetulan berada di tempat kejadian. Sementara bantuan profesional masih dalam perjalanan, orang-orang di sekitar korbanlah yang berada pada jarak paling dekat untuk memberikan pertolongan awal.
Kesadaran semacam itulah yang ingin dibangun melalui edukasi BHD dalam rangkaian Hari Jantung Sedunia. Masyarakat tidak hanya diajak menjaga jantung melalui pola hidup sehat, tetapi juga diberi pengetahuan tentang apa yang dapat dilakukan ketika keadaan darurat benar-benar terjadi. BHD menjadi salah satu keterampilan yang dapat diberikan sambil menunggu bantuan medis datang.
Bagi Nurul dan Fara, pengalaman praktik membuatnya merasa lebih siap dibanding sebelumnya. Setidaknya, mereka kini memiliki gambaran tentang langkah awal yang harus dilakukan ketika menghadapi keadaan serupa. “Jadi kita udah tahu ya,” kata Fara. Dengan pengetahuan itu, ia merasa tidak perlu lagi menghabiskan waktu untuk mencari tahu dari awal ketika keadaan darurat datang.
“Kita nggak harus nunggu lama.”
Di bawah stand Yayasan PERKI, pesan tentang kesehatan jantung hadir dalam bentuk yang lebih sederhana dan nyata. Bukan sekadar ajakan untuk menjalani hidup sehat, melainkan latihan yang mengajarkan orang bagaimana menggunakan kedua tangannya ketika seseorang di dekatnya membutuhkan pertolongan. Dari latihan itu, perlahan dibangun keberanian untuk tidak hanya menjadi penonton ketika keadaan darurat terjadi.
Latihan itu mungkin hanya berlangsung beberapa menit. Namun bagi peserta beberapa menit tersebut cukup untuk membawa pulang pengetahuan yang sebelumnya tidak dimiliki. Setidaknya, ketika suatu saat menghadapi keadaan darurat, ia tidak lagi hanya tahu bahwa seseorang membutuhkan pertolongan, tetapi juga tahu langkah awal yang bisa dilakukan sambil menunggu bantuan medis datang. (DK)

